Langsung ke konten utama

Sifat Dunia adalah Pembunuh . . !

Sudah menjadi suratan takdir kita dihidupkan di dunia ini, dimana kita pasti akan bergelimang dengan dunia, menginginkan dunia, yagn pada ujungnya mengalami kesibukan-kesibukan baik itu sibuk bekerja, sibuk soal-soal kepentingan pribadi, dan sibuk masalah diri sendiri, dan pastinya akan menemui dan merasakan bahagia dan kecewa, kesuksesan dan kegagalan.
Semua itu jangan sampai menjadikan kita keheranan, sebab semuanya itu merupakan pembawaan dari sifat-sifat dunia itu sendiri sebagai perwujudan"Laa'ibun walahwun" permainan dan senda gurau belaka, maka jangan sekali-kali kita menjadikan hidup di dunia ini sebagai tempat untuk bernaung, melainkan harus kita jadikan sebagai tempat berpijak bagi kehidupan yang hakiki kita kelak di akhirat nanti.

Untuk itu "LETAKKAN DUNIA INI DIDALAM GENGGAMAN TANGANMU, DAN LETAKKAN AKHIRAT DIDALAM HATIMU", jangan mudah kagetan, jangan mudah engkau heran, dan jangan mudah engkau meremehkan di dalam hidup ini, maka engkau akan mendapati kesuksesan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.

Ingat..!!!
Dunia apabila dikejar maka ia akan semakin lari, tapi bila kita diam, dia akan berhenti berupaya untuk membujuk dan merayu, agar kita menjadi terbuai dan mati dalam dekapan pelukan mesranya!


Wahai saudaraku..!!!
Sejenak kita tengok diluar sana, dimana jutaan manusia banyak menjadi korban bujukan rayuan dunia, sehingga mati didalam pelukan dunia, akibatnya mereka terpengaruh dan keheranan dengan keadaan dunia, sehingga hati nuraninya mati, tertutup, tergilas oleh dahsyatnya pengaruh "Laa'ibun walahwun" itu sendiri, hanya masalah mengejar titel jabatan, rupiah, mereka tega saling jatuh menjatuhkan, rela mengorbankan teman, anak dan istri bahkan hanya karena masalah harga diri dan materi, korupsi dilakukan, dan tega saling bunuh membunuh satu dengan yang lain.

Sekali lagi ingat wahai saudaraku.. “SIFAT DUNIA ADALAH PEMBUNUH!
Siapakah yang selamat dari segala pengaruh-penggaruh hidup di dunia ini?
Hanya merekalah orang-orang yang membiarkan hati nuraninya untuk dikuasai Tuhan, sehingga tak ada sedikit cela, bagi hawa nafsu yang ingin menguasai dirinya, yang nantinya mengakibatkan hatinya mati (buta), menyebabkan dia rakus dengan dunia, rakus dengan gelar title, jabatan dan kehormatan, dan rakus dengan harta kekayaan, sehingga tunduk oleh hawa nafsu, terpengaruh oleh dunia.
Maka orang yang membiarkan dirinya di kuasai Tuhan sehingga ia mengenal Sang Pencipta, akan menjadikan segala tingkah lakunya dalam dunia ini. baik yang dia lihat, yang dia dengar dan dia rasakan, bergerak maupun berdiam, dia senantiasa sadar bahwa itu semua datang dari Tuhannya, sehingga dia tak heran, apabila menemui kekayaan dan kemiskinan, mendapati kesuksesan ataupun kegagalan, dia tak heran dengan itu semua.

"Laa syakka anta anta" tidak ragu lagi karena dibalik yang kulihat, yang kutemui, yang kudengar dan yang kurasakan didalam hidup ini, itu semua tak lepas dari ENGKAU TUHANKU, ENGKAU TUHANKU!

Ditulis oleh Omyang Jinggo, 23 Oktober 2013

sumber : Al-Hikmah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH KERAJAAN PEDIR (PIDIE)

Wilayah Kerajaan S ejarawan Aceh, M. Junus Jamil di dalam bukunya yang berjudul “Silsilah Tawarick Radja-Radja Kerajaan Aceh”, berisi tentang sejarah Negeri Pidie / Sjahir Poli. Kerajaan ini digambarkan sebagai daerah dataran rendah yang luas dengan tanah yang subur, sehingga kehidupan penduduknya makmur. Batas-batas kerajaan ini meliputi, sebelah timur dengan Kerajaan Samudra/Pasai, sebelah barat dengan Kerajaan Aceh Darussalam, sebelah selatan dengan pegunungan, serta dengan selat Malaka di sebelah utara. Sementara dalam kisah pelayaran bangsa Portugal, Mereka menyebut Pidie sebagai Pedir, Sedangkan dalam kisah pelayaran bangsa Tiongkok disebut sebagai Poli. Asumsinya, orang Tiongkok tidak dapat menyebut kata “Pidie” seperti yang kita ucapkan. Dalam catatan pelayat Tiongkok itu disebutkan, bahwa Kerajaan Pedir luasnya sekitar seratus kali dua ratus mil, atau sekitar 50 hari perjalanan dari timur ke barat dan 20 hari perjalanan dari utara ke selatan. Menurut M. Junus Jamil, Suku...

Ranup Lampuan

Ranup Lampuan adalah kesenian tari yang berasal dari Nangroe Aceh Darussalam. Tari ini merupakan visualisasi dari salah satu filosofi hidup warga Aceh, yakni menjunjung keramah-tamahan dalam menyambut tamu. Gerakan demi gerakan dalam Ranup Lampuan menggambarkan prosesi memetik, membungkus, dan menghidangkan sirih kepada tamu yang dihormati, sebagaimana kebiasaan menghidangkan sirih kepada tamu yang berlaku dalam adat masyarakat Aceh. Menilik karakteristiknya, atas dasar tersebut, tari ini digolongkan ke dalam jenis tari adat/upacara. Tarian Ranup Lampuan (ATjeh) Sejarah Ranup Lampuan Ranup (atau ranub) dalam Bahasa Aceh memang berarti sirih, sementara lampuan terdiri dari dua kata, yakni (lam) yang artinya dalam, dan (puan) yang berarti tempat sirih khas Aceh. Tarian ini diciptakan oleh Yusrizal (Banda Aceh) kurang lebih pada 1962 (Burhan, 1986; 141). Tak lama setelah populer di Banda Aceh, tari ini berkembang di berbagai daerah lainnya di Nangroe Aceh Darussalam. Selain Ra...

Teuku Cut Ali "Pejuang Dari Aceh Selatan"

T euku Cut Ali dilahirkan di Desa Kuta Baro, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, tahun 1795. Ayahnya, Teuku Cut Hajat, ibunya Nyak Puetro. Teuku Cut Ali, salah satu keturunan Raja Trumon. Kakeknya, Teuku Nyak Dhien, Raja keenam yang pernah memimpi Kerajaan Trumon.Trumon, merupakan salah satu daerah termasyur dan makmur di Wilayah Aceh Selatan. Itu disebabkan, karena Kerajaan Trumon, merupakan sembilan dari kerajaan Aceh yang memiliki Cap Sikureng (Cap Sembilan). Trumon, mempunyai mata uang sendiri dan tidak saja diakui di Aceh, tapi juga dunia. Sejak kanak-kanak, Teuku Cut Ali, sudah memiliki bakat seorang pejuang. Itu, terlihat dari sikapnya yang tegas dan setia kepada teman. Teuku Raja Angkasah, merupakan teman akrab Teuku Cut Ali, mereka sama-sama berjuang melawan Belanda di medan perang. Saat usia 18 tahun, Teuku Cut Ali, sudah ikut berperang melawan Belanda. Beranjak usia 20 tahun, Teuku Cut Ali, dipercayakan menjadi Panglima Sagoe dan sejumlah pejuang Aceh...