Langsung ke konten utama

NEGERIKU INGIN TERTAWA



Negeriku menangis selalu
Kadang alam membuatnya tersedu
Kadang bencana kemanusiaan mendera
Ada ada dengan negeriku?

Rusuh disana sini bak wabah kolera
Korupsi menggila beranak pinak
Hukum tak lagi berwibawa bak harimau tanpa taring
Ada apa dengan para pemimpin negeri ini?

Negeriku mulai tersenyum
Tapi bukan karena senang ataupun suka
Tapi telah habis air mata tuk ditumpahkan 
Dan ia hanya bisa tersenyum
Tersenyum nyinyir menyaksikan sikap apatis pemimpin negeri

Negeriku akhirnya tertidur
Tapi bukan karena terlena apalagi terlupa
Ia tak lagi punya sedih dan suka 
Ia hanya bisa terlelap
Terlelap tak pedulikan tingkah polah kita
yang tak pernah berujung jera

Dan nanti pada saatnya negeri ini marah
Dan ia bersekutu dengan tanah, air, angin dan bumi
Apakah kalian masih bisa tertawa dan terlena
oleh kesombongan dan kerakusan itu?

Sisihkanlah kepedulianmu untuk negeriku
Karena negeriku ingin tertawa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teuku Cut Ali "Pejuang Dari Aceh Selatan"

T euku Cut Ali dilahirkan di Desa Kuta Baro, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, tahun 1795. Ayahnya, Teuku Cut Hajat, ibunya Nyak Puetro. Teuku Cut Ali, salah satu keturunan Raja Trumon. Kakeknya, Teuku Nyak Dhien, Raja keenam yang pernah memimpi Kerajaan Trumon.Trumon, merupakan salah satu daerah termasyur dan makmur di Wilayah Aceh Selatan. Itu disebabkan, karena Kerajaan Trumon, merupakan sembilan dari kerajaan Aceh yang memiliki Cap Sikureng (Cap Sembilan). Trumon, mempunyai mata uang sendiri dan tidak saja diakui di Aceh, tapi juga dunia. Sejak kanak-kanak, Teuku Cut Ali, sudah memiliki bakat seorang pejuang. Itu, terlihat dari sikapnya yang tegas dan setia kepada teman. Teuku Raja Angkasah, merupakan teman akrab Teuku Cut Ali, mereka sama-sama berjuang melawan Belanda di medan perang. Saat usia 18 tahun, Teuku Cut Ali, sudah ikut berperang melawan Belanda. Beranjak usia 20 tahun, Teuku Cut Ali, dipercayakan menjadi Panglima Sagoe dan sejumlah pejuang Aceh...

SEJARAH KERAJAAN PEDIR (PIDIE)

Wilayah Kerajaan S ejarawan Aceh, M. Junus Jamil di dalam bukunya yang berjudul “Silsilah Tawarick Radja-Radja Kerajaan Aceh”, berisi tentang sejarah Negeri Pidie / Sjahir Poli. Kerajaan ini digambarkan sebagai daerah dataran rendah yang luas dengan tanah yang subur, sehingga kehidupan penduduknya makmur. Batas-batas kerajaan ini meliputi, sebelah timur dengan Kerajaan Samudra/Pasai, sebelah barat dengan Kerajaan Aceh Darussalam, sebelah selatan dengan pegunungan, serta dengan selat Malaka di sebelah utara. Sementara dalam kisah pelayaran bangsa Portugal, Mereka menyebut Pidie sebagai Pedir, Sedangkan dalam kisah pelayaran bangsa Tiongkok disebut sebagai Poli. Asumsinya, orang Tiongkok tidak dapat menyebut kata “Pidie” seperti yang kita ucapkan. Dalam catatan pelayat Tiongkok itu disebutkan, bahwa Kerajaan Pedir luasnya sekitar seratus kali dua ratus mil, atau sekitar 50 hari perjalanan dari timur ke barat dan 20 hari perjalanan dari utara ke selatan. Menurut M. Junus Jamil, Suku...

” Mars Rimbawan “

SERUAN RIMBA Hai Perwira rimba raya, Mari kita bernyanyi, Memuji hutan rimba, Dengan lagu yang gembira, Dan nyanyian yang murni, Meski sepi hidup kita, Jauh di tengah rimba, Tapi kita gembira sebabnya kita bekerja, Untuk nusa dan bangsa.  Rimba raya-rimba raya. Indah permai dan mulia Maha taman tempat kita bekerja (2X)  Rimba raya maha indah, Cantik molek perkasa, Penghibur hati susah, Penyokong nusa dan bangsa, Rimba raya mulia, Disitulah kita bekerja, Di sinar matahari, Gunung lembah berduri, Haruslah kita arungi, Dengan hati yang murni.  Rimba raya-rimba raya. Indah permai dan mulia Maha taman tempat kita bekerja (2X)  Pagi, petang, siang malam, Rimba kita berseru, Bersatulah, bersatu, Tinggi rendah jadi satu, Bertolonglah selalu, Jauhkanlah sikap kamu, Yang mementingkan diri, Ingatlah nusa bangsa, Minta supaya dibela, Oleh kamu semua.  Rimba raya-rimba raya. Indah permai dan mulia Maha taman tempat kita...